kampus itu bukan pintu sukses, Benarkah?

Chapter 2 –  kampus itu bukan pintu sukses. Benarkah?

Mencermati statmne kali ini, menyambung artikel yang kemarin bahwa hal ini bisa direnungi bersama. Maka yang menjadi pertanyaan besar sehingga kampus sebagai dunia pendidikan elit menjadi output yang tidak bisa diharapkan.

Kemarin kita sempat mengulik dan sharing lebih tepatnya tentang pengalaman saya masuk jenjang perlkuliahan hinga 2 tahun setengah. Dan hingga saat ini saya memutuskan cuti dan mengambil keputusan untuk merajut bakat terpendam.

Baik,

Mari kita teruskan, kenapa kampus bisa seperti itu?!

 

Kampus saya bukan kampus kaleng-kaleng

kampus bukan kaleng kaleng
https://pixabay.com- View campus

Saya dkk sebagai calon maba yang masih dalam waktu Orientasi Perkenalan Kampus, Diperlakukan seperti anak buah para speaker demonstran yang membabi buta depan kantor DPR (dengan smua atributnya), saya gambarkan seperti itu.

Dapat kalian lihat bagaimana ilustrasi diatas yang saya sampaikan dengan pertanyaan besar ini Apa gunanya?

Disela momen Ospek yang panas selama 4 hari itu. Banyak protes dari kalangan kami yang Mengecam para speaker didepan kami, bisa sebut saja para Orator.

Mereka didepan kami, berdiri diatas panggung berukuran 3×4 meter. Dengan kursi dibelakangnya berjumlah empat dan satu mic untuk mereka berorasi saling bergantian.

Disaat mereka satu persatu mendapatkan jatah orasi, dalam durasi kurang lebih 15 menit per orang. Banyak hal yang disampaikan dalam isi orasi tersebut yang sama dari 4 orang diatas.

Mereka adalah para pejabat Bem kampus. Yang diagungkan para fansnya. Waww!

 

Orasi Bak Pidato Sultan

pidato
https://pixabay.com – orator berorasi didepan para camaba by Ilustration

Membara cetar bergelima, orasi sang Orator Pejabat Bem menggetarkan jiwa!

“Sumpah Pemuda!”, orator
“Sumpah Pemuda”, serentak teriakan maba

“Kami ! Mahasiswa Indonesia, berbahasa Satu Bahasa Indonesia”..teriaknya sang Orator
Dan dilanjutkan lagi teriakan maba hingga akhir teks tersebut.

Pernah juga sesekali, Orator berteriak kepada maba dengan kalimat seperti ini,

“KALIAN SIAPAA??” ,. Sambil keluar urat tenggorokannya
“AGEN OF CHANGE!!”,. Kita jawab

Dan diulang beberapa kali hingga kami benar benar membara semangatnya (padahal laper).

Dan itu dirasakan semua maba sangat menjengkelkan dan mengagumkan. Mereka yang beropini menjengkelkan karena mereka sadar sedang diprofokasi selain itu juga laper.

Dan mereka yang bilang terkagum dengan orasi itu, karena mereka kebanyakan terobsesi dengan para kegantengan Orator pada waktu itu, dan lihainya mulurt berorasi, subhaanallah!

 

Idola Para fanatisme

Luar biasa memang ,.

Efek dari segala orasi berdurasi sekitar satu jam itu yang dipenuhi dengan high volume (sampai Keluar urat), membuat para maba setengah diantaranya merasa muak dan melakukan protes hingga saling tunjuk menunjuk.

Disamping itu, perlakuan para Orator yang menunggu giliran mereka untuk berorasi, mereka Menyalakan putung rokok dengan kaki satunya diangkat kesebelah kaki yang lainnya. Hingga Ungkapan Bak Pidato Sultan diganti menjadi pidato  Mahasiswa abal abal.

Tapi mereka tetap bersikukuh dengan kebenaran mereka dalam bersikap dalam menyampaikan Orasinya itu.

Hari demi hari, 4 hari itu yang penuh dengan cengkraman singa kaleng kaleng, tak terasa sudah di penghujung hari. Hari ke 4 dan hari itu hari terakhir bagi para calon maba menghadapi Ospek.

 

Maba Mencuri Panggung Pidato Sultan

 

Diakhir moment ini. Hari terakhir dalam Orientasi Perkenlan Kampus. Ada sesi dimana di Graha tempatnya, yang mencangkup kapasitas 1200 orang kurang lebih, menjadi acara pertemua terakhir dan penutupan acara Ospek.

Graha yang dipenuhi para camaba ini, sangat crowded  situasi didalamnya.

Semua para camaba bersila lesehan dengan kelompoknya masing masing yang sudah dibagikan Kelompoknya dihari pertama Ospek.

graha watu dakon
Orasi di Panggung Kehormatan-Photo by Maja R. on Unsplash

Maka jika disaat itu ada orang teriak untuk iseng, maka sangat malu sekali jika semua mata pandangan tertuju padanya. Gedung Graha berlantai 2, full dengan camaba yang ada disana.

Ada satu sesi, ketika awal perkenalan para Orataor yang ingin berpamitan pisah waktu itu. Mereka duduk dipanggung kehormatan.  Satu diantaranya, mencoba memanggil camaba yang berani maju kedepan untuk mengisi kesan pesan feedback selama mengikuti acara Ospek tersebut.

“ada yang berani kedepan, diatas panggung sisi?” tanya sang Orator

Sungi diam..krik krik krik

“sekali lagi, ada yang berani?”
“jika ada akan saya kasih hadiah!”

Maka, satu orang misterius dibalik duduk sana di lantai dua, mengacungkan tangannya dengan gagah dan berani.

Semua pandangan mata tertuju padanya.,..beusss (semilir tiupan angin dengann efek slowmotion) wkwk.

Dia sang Maba pun turun dengan para orang seperjuangan sangat antusias, dan terkesima dengan keberaniannya, lalu ia berjalan diiringi kemeriahan tepukan para kawan maba dan sautan suara siulnya yang saling bersautan.

Dibukakan midstreet menuju panggung oleh para rekan mabanya, dengan gagah tersipu malu dia melangkan, dan akhirnya smapai diatas panggung sultan,  so amazing!

 

Mengutarakan Aspirasi Rakyat Jelata

anak maba berorasi depan mahasiswa
Anak Maba berpidato diatas panggung-Photo by Miguel Henriques on Unsplash

Layaknya sang pahlawan Spidermen terjun ditengah kota ditengah halayak penjuru manusia memandang.

“silahkan sampaikan kesan dan pesan kamu!” ujar sang Orator
“terima kasih .” jawabnya sang maba yang gemeteran

Dia pun balik badan setelah menerima mic tersebut kepad audience para maba.

Sisi arah manapun tertuju padanya, dan telah siap dengan kamera hp mereka.

Dan dia pun mulai berorasi dengan candanya demi mencairkan suasana pekik saat itu.
“halo semuanya!,. Assalamu’alaikum wr. Wb.” Sapanya

“Wa’alaikumussalam wr. Wb huuuu!” jawaban sorakan mereka dengan gembira

Anak maba ini memang bermentalkan baja, tak tau berpikir apa akibatnya, namun dia semangat untuk menorehkan suaranya yang terpendam dan mewakili suara camaba lainnya.

Hingga akhirnya dia memulai bicaranya, meledek para Orator dengan menirukan sikap gaya mereka pada waktu orasi waktu itu. Dan pecah suasana Graha tersebut bak konser artis Hollywood yang sedang manggung.

Hingga ada kalimat cerdik dan menggelitik saya kutip dari anak maba itu,
“Mahasiswa sekarang tidak jamannya turun ke jalan dan demo sana sini tanpa aplikasi sungguh sungguh dibangku perkuliahan.”

“jika kalian nbikin makalah dan masih comot cpas sana sini maka tak beda dengan para DPR yang ambil uang rakyat ana sini”

“kalian atau kita semua harus cermat, baca  buku dan aplikasi nyata diperkuliahan, insyaaAllah 2, 3, 4 ,5 tahun setelahnya kita akan menggantikan para pejabat DPR disana! HIDUP MAHASISWA!!” utarannya kepada para audience

“Ok, semuanya ikutin saya!
ALL IS WELL!! ALL IS WELL!! ALL IS WELL!!” Ujarnya dengan semangat

Dan sangat luar biasa, para audiencepun 1200 kurang lebih, mengikutinya dengan bersorak,
“ALL IS WELL!! ALL IS WELL!! ALL IS WELL!!” sorak keras audience dengan tepukan dada yang dicontohkan maba satu itu.

Dan tak lama ia berdiri berbicara, sang Oratorpun merampas mic tersebut dari genggaman anak maba itu. Seakan emosi dan tersipu malu sang  Orator dengan perlakuan anak maba itu.

Hingga akhirnya anak maba itu di kasih hadiah yaitu sebuah buku novel dari sang Orator. Dan dia pun turun Podium dengan sorakan keras gembira, bangga para audience..
“ALL IS WELL !
“ALL IS WELL !
“ALL IS WELL !

 

Sukses Anak Maba Itu

Iring-iringan kembalinya anak maba itu ke tempat duduknya bersama para ajudan relawan dari sahabatnya yang baru kenal camaba cara Ospek tersebut.

Hemm.. seru ya cerita sebelum tidur ini , hehehe

 

Kamu kuliah buat dapat ijazah?

Perhatikan: Ijazah itu tanda anda pernah sekolah bukan tanda anda pernah berpikir – rocky gerung

Inilah kisah dimana secuial pernah memalukan para senior mahasiswa di kampus.

Iyaa, benar . anak maba itu adalah saya. Biidznillah

Nilai ibroh dari suatu cerpen diatas, bahwa pendidikan kampus

  • Kurangnya Attitude dalam berorganisasi
  • Kurang memprioritaskan penambahan kwalitas didiri tiap calon mahasiswa baru
  • Edukasi yang tidak mendidik dan selalu diulang-ulang tiap tahunnya

Maka, dari sisi masuk jenjang pendidikan ini saja kita melihat hal less produktivity yang dilakukan Dan bodohnya adalah hal ini telah menjadi primer dalam budaya kampus.

Deengan itu, saya mengatakan bahwa kampus bukan kunci kesuksesan tapi kunci kesuksesan Adalah work hard pray hard.

 

 

Leave a Reply